NARASI BALI KELEBIHAN WISATAWAN YANG PERLU DIKRITISI
Catatan Pantauan Lapangan – Dinamika Pariwisata Bali (Bagian 1)
oleh Jongki Adiyasa
Selama menjalankan tugas di Bali, saya mencermati dinamika pariwisata yang belakangan ramai diperbincangkan oleh para pemangku kebijakan, khususnya narasi bahwa Bali telah mengalami over tourism. Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, saya berpendapat bahwa persoalan utama pariwisata Bali saat ini bukan semata-mata jumlah kunjungan wisatawan, melainkan pengelolaan pariwisata yang belum optimal dan belum terdistribusi secara seimbang.
Narasi over tourism kerap digunakan sebagai penjelasan atas berbagai persoalan yang muncul di lapangan. Namun, pandangan tersebut perlu ditinjau secara lebih kritis. Indikasi yang justru mulai terlihat adalah menurunnya minat sebagian wisatawan untuk kembali berkunjung, khususnya wisatawan berulang (repeat visitors), yang selama ini menjadi salah satu fondasi kekuatan pariwisata Bali.
Kondisi ini menunjukkan bahwa isu utama terletak pada kualitas pengelolaan destinasi, bukan semata pada kuantitas kunjungan. Penyelarasan arah pembangunan pariwisata, integrasi lintas sektor, serta komitmen menjaga kualitas lingkungan dan pengalaman wisatawan menjadi faktor kunci dalam menjaga daya saing Bali sebagai destinasi pariwisata kelas dunia. Daya tarik sebuah destinasi tidak bersifat permanen; ia harus terus dikelola, dievaluasi, dan diperbarui agar tetap relevan di tengah persaingan global.
________________________________________
Kemacetan Lalu Lintas dan Persoalan Parkir di Kawasan Destinasi Wisata
Salah satu persoalan yang paling nyata dari hasil pengamatan di lapangan adalah kemacetan lalu lintas di sejumlah kawasan destinasi wisata. Pada banyak kasus, kemacetan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh peningkatan jumlah kendaraan, melainkan oleh pemanfaatan ruang jalan yang belum tertata dengan baik, terutama terkait aktivitas parkir.
Di berbagai ruas jalan menuju dan di sekitar destinasi wisata, penggunaan badan jalan sebagai area parkir—baik untuk sepeda motor maupun kendaraan roda empat—masih kerap dijumpai. Praktik ini secara langsung mengurangi kapasitas jalan dan menyebabkan tersendatnya arus lalu lintas, terutama pada periode kunjungan wisata yang tinggi, sehingga berdampak pada kenyamanan wisatawan sekaligus aktivitas masyarakat setempat.
Sebagai destinasi yang secara aktif mengharapkan kedatangan wisatawan, ketersediaan fasilitas pendukung, khususnya sarana parkir yang memadai dan mudah diakses, merupakan kebutuhan mendasar. Keterbatasan lahan parkir yang tertata mendorong wisatawan memanfaatkan ruang-ruang yang tidak semestinya. Oleh karena itu, diperlukan penyediaan lahan parkir yang lokasinya relatif dekat dengan kawasan destinasi, atau alternatif solusi seperti parkir bertingkat (elevated parking), yang disesuaikan dengan karakter dan daya dukung wilayah.
Selain itu, perlu dicermati bahwa sebagian wisatawan, khususnya wisatawan independen, menggunakan sepeda motor sewaan sebagai moda transportasi utama. Kondisi ini menuntut penataan parkir kendaraan roda dua yang lebih spesifik dan proporsional agar tidak bercampur dengan arus kendaraan lain dan tidak memperparah kemacetan.
Dalam konteks tata kelola pariwisata, penyediaan fasilitas umum tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah sebagai bagian dari pelayanan publik. Hal ini relevan mengingat aktivitas wisatawan secara langsung berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pajak, retribusi, dan perputaran ekonomi lokal. Dengan demikian, investasi pemerintah dalam penyediaan dan pengelolaan fasilitas parkir seharusnya dipandang sebagai instrumen pengungkit ekonomi, bukan sekadar beban anggaran.
Sebagai ilustrasi kondisi di lapangan, kawasan menjelang Warung Bu Mangku, Kedewatan, kerap mengalami kepadatan lalu lintas yang signifikan. Keterbatasan dan pengaturan parkir kendaraan roda empat di sekitar lokasi tersebut memicu kemacetan panjang yang pada waktu-waktu tertentu dapat mencapai lebih dari tiga kilometer dari dua arah. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas wisata, apabila tidak diimbangi dengan manajemen parkir dan lalu lintas yang memadai, dapat menimbulkan dampak yang meluas bagi kawasan sekitarnya. (JA/js/rn+)
bersambung
Jongki Adiyasa, adalah
Founder, Owner, Executive Director, Tour Operator, Tour Planner, Guest Speaker, Guest Lecturer
Executive Director – Ina Leisure Tour Operator – DMC
Vice Chairman – IINTOA (Indonesian Inbound Tour Operators Association)
Vice Chairman – AITTA (Alliance of Indonesia Tour & Travel Agencies)
Passionate advocate for sustainable tourism and industry collaboration
Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!