Pendidikan Usaha Layanan Wisata dan Tantangan Regenerasi Industri

Kegiatan Pemanduan (Guiding) yang dipelajari dalam Jurusan USaha Layanan Wisata (foto dok rextours/istimewa)

Refleksi untuk Keberlanjutan Inbound Tourism Indonesia

Industri tour & travel di Indonesia adalah industri yang terbuka. Hampir siapa pun, dari latar belakang pendidikan apa pun, dapat masuk dan berkembang di dalamnya. Banyak pelaku usaha yang sukses justru datang dari disiplin ilmu yang tidak secara khusus mempelajari pariwisata.

Di satu sisi, ini menunjukkan fleksibilitas dan daya adaptasi industri kita. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang semakin relevan:

Lalu di mana posisi pendidikan Usaha Layanan Wisata (ULW)?

 

Ketika Mahasiswa Mulai Kehilangan Orientasi

Di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi, mahasiswa ULW mulai mempertanyakan masa depan profesinya:

  • Setelah lulus, saya akan menjadi apa?
  • Apa jenjang karier saya di industri tour & travel?
  • Apakah pendidikan khusus ini benar-benar diperlukan?

Berbeda dengan dunia perhotelan maupun tata boga yang memiliki jalur karier relatif jelas dan mudah dipahami publik—mulai dari level operasional hingga manajerial—bidang tour operator belum memiliki narasi karier yang terstruktur dan terkomunikasikan dengan baik.

Di perhotelan, seseorang dapat memulai sebagai trainee, kemudian naik menjadi supervisor, manajer departemen, hingga general manager.

Di tata boga, jenjangnya pun terlihat jelas: commis, demi chef, sous chef, hingga executive chef.

Sementara dalam bidang tour operator, perjalanan karier sering tidak tergambarkan secara sistematis. Padahal terdapat berbagai peran strategis seperti product development, pricing specialist, operation manager, market manager, hingga business development director.

Ketika struktur dan jenjang ini tidak dikomunikasikan dengan baik, mahasiswa sulit membayangkan masa depan profesionalnya secara konkret. Tidak sedikit yang akhirnya melihat jurusan ini sebagai pilihan sementara, bukan sebagai jalur karier jangka panjang.

Profesi yang Sering Direduksi

Masih banyak yang memandang profesi tour & travel sebatas:

  • Booking
  • Ticketing
  • Pengurusan administrasi perjalanan
  • Atau paling jauh menjadi tour guide dan tour leader

Bahkan di kalangan mahasiswa pariwisata sendiri, pilihan karier yang terbayang sering kali hanya dua: menjadi pemandu wisata atau memimpin rombongan perjalanan. Seolah-olah jalur profesional di bidang ini berhenti sampai di sana.

Padahal peran tour guide dan tour leader adalah bagian penting dari operasional, tetapi bukan keseluruhan ekosistem profesi tour operator.

Di balik satu program perjalanan inbound, terdapat proses yang jauh lebih kompleks:

  • Perancangan produk dan itinerary
  • Perhitungan struktur biaya dan strategi harga
  • Negosiasi dengan supplier
  • Pengelolaan risiko operasional
  • Pengendalian kualitas layanan
  • Manajemen relasi dengan buyer internasional

Inbound tour operator bekerja di balik layar, tetapi menentukan kualitas keseluruhan pengalaman wisatawan. Ketika kompleksitas ini tidak terlihat, profesi ini mudah direduksi menjadi fungsi teknis, bukan peran manajerial dan strategis.

Risiko Jika Kita Tidak Bertindak

Jika kondisi ini dibiarkan:

  • Industri akan kekurangan tenaga profesional yang memahami costing dan product development secara mendalam.
  • Regenerasi pemimpin tour operator menjadi lemah.
  • Kompetisi semakin bertumpu pada harga, bukan kualitas.
  • Standar profesional perlahan menurun.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi daya saing inbound tourism Indonesia di pasar global.

Kita berbicara tentang promosi luar negeri dan penetrasi pasar baru. Namun kita jarang bertanya:

siapa yang akan merancang dan mengelola produk inbound Indonesia 10–15 tahun ke depan?

Peran Organisasi: Lebih dari Sekadar Representasi

Di sinilah organisasi memiliki peran strategis.

Organisasi bukan hanya wadah berhimpun. Ia adalah penjaga pengetahuan, pengalaman, dan standar profesional.

Kehadiran pengurus dan anggota di sekolah maupun kampus bukan sekadar berbagi cerita, melainkan:

  • Menghadirkan realitas industri yang nyata
  • Memberikan gambaran karier yang konkret
  • Menumbuhkan kebanggaan terhadap profesi
  • Menjembatani dunia pendidikan dan dunia usaha

Pelatihan, diskusi industri, dan guest lecture bukan kegiatan seremonial. Itu adalah investasi jangka panjang untuk menjaga kesinambungan industri.

 

Regenerasi adalah Agenda Nasional

Sebagai Wakil Ketua Umum IINTOA, saya melihat bahwa isu regenerasi bukan persoalan lokal atau sektoral. Ini adalah agenda nasional.

Inbound Tourism Indonesia membutuhkan SDM yang:

  • Memahami dinamika pasar global
  • Menguasai struktur biaya dan manajemen risiko
  • Mampu menjaga standar pelayanan internasional
  • Memiliki integritas dan profesionalisme

Regenerasi tidak terjadi secara otomatis. Ia membutuhkan transfer pengetahuan, pengalaman, dan nilai profesional.. (JA/js/rn+)

 Founder, Owner, Executive Director, Tour Operator, Tour Planner, Guest Speaker, Guest Lecturer
Executive Director – Ina Leisure Tour Operator – DMC
Vice Chairman – IINTOA (Indonesian Inbound Tour Operators Association)
Vice Chairman – AITTA (Alliance of Indonesia Tour & Travel Agencies)
Passionate advocate for sustainable tourism and industry collaboration

 

Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *