Pariwisata Indonesia: Antara Tourist Arrival dan Economic Value

Tarian pembukaan pada Table Top Jakarta Sales Mission ke New Delhi – India (foto JA-Istimewa)

Episode 1 — Apa yang Kita Pelajari dari Sales Mission New Delhi

Jakarta, rexnewsplus.com – Pada 31 Agustus 2026, Jakarta Sales Mission di New Delhi berlangsung dengan lancar.

Bagi saya, keberhasilan sebuah sales mission tidak hanya diukur dari jumlah buyer yang hadir atau berapa banyak pertemuan bisnis yang terjadi. Ada sesuatu yang lebih penting: apa yang kita dengar dari pasar.

Sales mission bagi saya bukan hanya tentang selling the destination, tetapi juga tentang listening to the market.

Dari Recruitment sampai Verification

Sebelum sampai pada meja business matching, proses sudah dimulai dari recruitment dan verification. Tidak semua perusahaan yang mendaftar otomatis menjadi verified buyer.

Kami melihat antara lain kelengkapan perizinan, aktivitas mereka sebagai pelaku outbound tour, dan pasar yang mereka tangani. Perusahaan yang sudah melakukan atau menjual outbound ke Indonesia kami kategorikan sebagai verified. Sementara yang belum menjual Indonesia tetapi sudah aktif di Southeast Asia kami tempatkan sebagai potential buyer.

Bagi saya, proses ini penting agar business matching bukan sekadar mempertemukan banyak orang, tetapi mempertemukan pasar yang relevan dengan produk yang ingin kita kembangkan.

Business Matching dan Story Selling

Konsep di New Delhi juga tidak semata-mata tabletop. Kami mencoba membangun suasana networking yang memberi buyer kesempatan memperoleh gambaran yang lebih nyata tentang Jakarta.

Karena itu, Abang dan None Jakarta menjadi bagian dari tatanan networking. Kehadiran mereka bukan sekadar elemen seremonial, tetapi juga bagian dari destination storytelling—memberikan wawasan tentang Jakarta, budaya, karakter kota, dan pengalaman destinasi.

Bagi saya, dalam menjual destinasi, informasi tidak selalu harus datang dari brochure atau presentation deck. Ada kalanya destinasi menjadi lebih hidup ketika diceritakan oleh orang yang merepresentasikan karakter kota tersebut. Di situlah selling berubah menjadi story selling.

Angka Penting, tetapi Bukan Intinya

Dari proses tersebut tercatat: 117 registered, 94 verified, dan 58 showed up.

Angka tersebut penting untuk mengukur efektivitas kegiatan. Namun yang lebih menarik bagi saya adalah percakapan yang terjadi dengan para buyer.

Dari diskusi tersebut saya menangkap satu kecenderungan yang perlu kita perhatikan: sebagian foreign tour operator ingin melakukan direct dealing dengan supplier di destinasi—hotel, transportasi, restoran, pemandu, atraksi, maupun penyedia aktivitas wisata.

Antusiasme Para Travel Agent India mendapatan informasi aktual tentang Jakarta khususnya da Indonesia umumnya dalam Table Top Jakarta Sales Mission ke New Delhi – India (foto JA-Istimewa)

Ketika Buyer Ingin Direct Dealing

Dari sudut pandang bisnis, keinginan tersebut dapat dipahami. Setiap perusahaan mencari harga kompetitif, komunikasi yang cepat, proses yang sederhana, dan margin yang lebih baik. Teknologi juga membuat komunikasi langsung lintas negara semakin mudah.

Namun, ketika dilihat dari perspektif ekosistem pariwisata, pertanyaannya menjadi berbeda. Indonesia memiliki BPW, tour operator, dan DMC yang menjalankan fungsi penghubung antara pasar dan supplier, sekaligus melakukan coordination, handling, quality control dan problem solving.

Karena itu, ketika sebagian transaksi bergerak langsung dari foreign buyer kepada supplier, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang mendapatkan booking. Pertanyaannya adalah: di mana economic value dari kegiatan pariwisata tersebut tercipta, dicatat, dan tinggal di Indonesia?

Dari Tourist Arrival ke Economic Value

Kita sering berbicara tentang tourist arrival: berapa juta wisatawan datang, dari negara mana, dan bagaimana pertumbuhannya. Semua itu penting.

Tetapi wisatawan bukan hanya angka statistik. Di belakang satu wisatawan ada hotel, transportasi, restoran, pemandu, atraksi, UMKM, tenaga kerja, pemasok, pemerintah daerah, dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya.

Seberapa besar nilai ekonomi dari setiap wisatawan tersebut yang benar-benar tinggal dan berputar di Indonesia?

Saya tidak mengatakan bahwa direct dealing selalu salah, dan saya juga tidak mengatakan bahwa setiap perusahaan asing yang berhubungan langsung dengan supplier di Indonesia melakukan pelanggaran. Persoalannya lebih mendasar: bagaimana seluruh ekosistem bekerja, siapa yang mengambil nilai ekonomi, siapa yang menanggung tanggung jawab operasional, dan bagaimana kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia.

Pada akhirnya, keberhasilan pariwisata tidak cukup hanya dengan membuat wisatawan datang. Wisatawan memang harus datang. Tetapi economic value-nya juga harus tinggal.

Bagaimana menciptakan level playing field antara pelaku usaha lokal dan pelaku usaha yang membawa pasar dari luar negeri?

Pertanyaan inilah yang membawa kita pada Episode 2: Level Playing Field dan Economic Value bagi Indonesia.

Jongki Adiyasa
Chairman IINTOA Jakarta Chapter

Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *