Kampung Lawas Maspati Raih Achievement Award 2026: The Most Sustainable Urban Tourism

Para Diva Kampung Lawas Maspati (foto : ja/ istimewa)
Surabaya, rexnewsplus.com – Ajang Surabaya Tourism Awards 2026 kembali menjadi panggung apresiasi bagi para pelaku pariwisata yang berkontribusi nyata dalam mengembangkan daya tarik Kota Surabaya. Di tengah berbagai inovasi dan destinasi baru yang terus bermunculan, Kampung Lawas Maspati kembali menegaskan posisinya dengan meraih Achievement Award 2026: The Most Sustainable Urban Tourism. Penghargaan ini bukan sekadar simbol prestasi, melainkan pengakuan atas konsistensi dalam membangun pariwisata berbasis keberlanjutan.
Dari perspektif sustainable tourism, capaian ini bukanlah sesuatu yang sederhana. Keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang lingkungan atau pelestarian budaya, tetapi menyentuh aspek yang lebih mendasar: bagaimana pariwisata diposisikan—bukan sebagai obyek, melainkan sebagai subyek. Dalam banyak destinasi, masyarakat masih sering ditempatkan sebagai pelengkap. Padahal, ketika masyarakat dilibatkan sebagai stakeholder utama—yang memiliki, mengelola, dan merasakan manfaat—maka keberlanjutan menjadi sesuatu yang niscaya.

Penyerahan piagam penghargaan pada Suraaya Tourism Awards 2026 (foto ja/istimewa)
Di Kampung Lawas Maspati, keterlibatan ini hadir dalam berbagai bentuk. Tidak semua warga terlibat langsung dalam aktivitas wisata, namun partisipasi tetap nyata. Di tengah keterbatasan ruang kampung kota, warga menanam dan merawat pepohonan yang menjadikan lingkungan tetap hijau, teduh, dan ijo royo-royo. Banyak di antaranya merupakan tanaman obat keluarga yang tidak hanya memberi manfaat, tetapi juga menjadi bagian dari cerita yang dapat disampaikan kepada wisatawan. Kampung ini tidak hanya untuk dipandang, tetapi untuk dikenal dan dimaknai.
Semangat keberlanjutan juga tumbuh melalui inisiatif individu. Seorang pemuda setempat mengolah sampah botol plastik menjadi souvenir bernilai jual. Dari sesuatu yang sebelumnya tidak bernilai, lahir produk kreatif yang tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi. Bagi wisatawan, produk tersebut bukan sekadar cenderamata, melainkan bagian dari cerita yang mereka bawa pulang.
Di sinilah peran story telling menjadi penting. Tanpa cerita, sebuah destinasi akan terasa hambar. Setiap sudut, aktivitas, dan inisiatif di kampung ini memiliki makna yang perlu disampaikan. Lebih dari itu, story telling berkembang menjadi story selling—di mana cerita tidak hanya disampaikan, tetapi juga dikreasi menjadi pengalaman dan produk bernilai ekonomi. Dalam proses ini, saya turut terlibat bersama masyarakat, menggali potensi, menyusun narasi, dan mengemasnya menjadi kekuatan yang memberi manfaat nyata.

Salah satu sudut Kampung Lawas Maspati (foto ja/istimewa)
Selama kurang lebih empat tahun berproses bersama Kampung Lawas Maspati, ada satu hal yang tetap terjaga: masyarakatnya tidak terjebak dalam pola pikir yang komersial.
Ini adalah nilai yang sangat penting. Pariwisata tidak semestinya dimaknai secara sempit sebagai tipping atau keuntungan sesaat bagi segelintir pihak. Lebih dari itu, pariwisata adalah sebuah sistem yang mampu menggerakkan ekonomi secara luas dan merata.
Keseimbangan antara manfaat ekonomi dan nilai kebersamaan inilah yang menjadi fondasi keberlanjutan. Apa yang berkembang di kampung ini juga mencerminkan esensi community-based tourism, di mana hasil dari aktivitas pariwisata tidak hanya dinikmati oleh pengurus atau pihak tertentu, tetapi dirasakan oleh masyarakat secara luas, bahkan hingga lingkungan sekitar.
Nilai ini diwujudkan dalam tindakan nyata—seperti kegiatan berbuka bersama anak yatim pada bulan Ramadhan, serta pembagian sembako kepada masyarakat pada tahun berikutnya. Pariwisata di sini tidak hanya menghadirkan kunjungan, tetapi juga kepedulian.
Pada akhirnya, penghargaan ini bukan sekadar pencapaian, melainkan representasi dari proses panjang yang dibangun dengan kesadaran dan komitmen bersama. Sebagai praktisi pariwisata yang terlibat langsung dalam perjalanan ini, saya melihat bahwa keberhasilan sejati tidak terletak pada seberapa besar sebuah destinasi berkembang, tetapi pada seberapa luas manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.
Kampung Lawas Maspati telah membuktikan bahwa ketika masyarakat ditempatkan sebagai subyek, cerita dibangun dengan makna, dan nilai kebersamaan tetap dijaga, maka pariwisata dapat tumbuh secara berkelanjutan—bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan. (ja/js/rn+)
Kontributor : Jongki Adiyasa / Praktisi Pariwisata
Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339

