WASPADA JANGAN SAMPAI ANDA MENGINCAR SI MANIS, KENYAL, LEGIT DAN NIKMAT

Mochi Sukabumi (Foto Amorcakes.co.id)
Sesuatu yang tidak banyak dibicarakan di luar sana, tapi begitu kamu tahu, kamu tidak akan bisa melupakannya. Bukan karena rasanya yang biasa, melainkan karena ada cerita panjang di balik setiap gigitannya yang membuatnya berbeda dari yang lain.
Namanya sudah melegenda di kalangan warga lokal, tapi bagi pendatang, ia sering kali baru ditemukan secara tidak sengaja mungkin saat melewati sebuah gang kecil, atau ketika sesorang merekomendasikannya dengan nada setengah berbisik, seolah sedang membocorkan rahasia terbesar kota itu.
Seiring berjalannya waktu, kehadirannya mulai dibicarakan lebih luas. Orang-orang yang pernah mencicipinya selalu kembali, dan mereka yang belum pernah pun akhirnya penasaran. Bahkan tidak sedikit wisatawan yang rela mampir khusus hanya untuk membawa pulang si manis kenyal yang kini sudah menjadi ciri khas kota tersebut.
Yang membuatnya istimewa bukan hanya rasanya. Ada sesuatu yang lebih dalam sebuah warisan yang tumbuh perlahan, melewati berbagai zaman, hingga akhirnya menjadi simbol dari sebuah kota yang kini tak bisa dipisahkan darinya
“Kenyal, manis, dan selalu menjadi incaran wisatawan.”
Itulah kesan yang langsung muncul ketika mendengar nama “Mochi Kaswari”. Mochi menjadi salah satu oleh-oleh khas Sukabumi yang sangat populer, terutama bagi wisatawan yang berkunjung dari luar kota. Di balik rasanya yang lezat, ternyata mochi memiliki sejarah panjang dan menarik hingga akhirnya identik sebagai oleh-oleh khas Kota Sukabumi. Lalu, bagaimana mochi bisa berkembang dan menjadi ikon kuliner Sukabumi? Mari kita telusuri sejarahnya.
Asal-usul Mochi
Banyak orang mengenal mochi sebagai makanan khas Jepang. Hal tersebut tidak mengherankan, mengingat mochi memang sangat identik dengan budaya dan kuliner Jepang. Namun ternyata, ada pendapat lain mengenai asal-usul mochi. Sejarawan dan antropolog Universitas Indonesia, Irman Firmansyah, mengungkapkan bahwa mochi tidak sepenuhnya berasal dari Jepang. Menurutnya, makanan tersebut diperkenalkan melalui kawasan Asia Tenggara seiring masuknya sistem penanaman padi ke Jepang pada abad ke-9 hingga ke-11. Pada periode tersebut, Kerajaan Sunda masih berdiri di Nusantara. Seiring perkembangannya, mochi pun dikenal luas di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.
Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa mochi memang dikenal sebagai bagian dari budaya dan identitas kuliner Jepang, tetapi akar sejarahnya diperkirakan berasal dari tradisi olahan beras ketan di Tiongkok. Pada awalnya, mochi digunakan sebagai makanan simbolis dalam berbagai tradisi dan upacara. Seiring perkembangan zaman, mochi kemudian berkembang menjadi camilan dan hidangan penutup modern tanpa meninggalkan ciri khas teksturnya yang kenyal.
Asal mula mochi menjadi makanan oleh-oleh khas Sukabumi
Mochi awal mulanya diadaptasi oleh masyarakat keturunan Tionghoa yang telah menetap di Sukabumi sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, mochi biasanya disajikan sebagai hidangan dalam perayaan Imlek maupun acara keluarga. Dari kebiasaan tersebut, mochi mulai dikenal oleh masyarakat lokal hingga akhirnya berkembang menjadi salah satu kuliner khas Sukabumi.
Seiring berjalannya waktu, popularitas mochi semakin meningkat setelah diproduksi secara lebih luas oleh keluarga dengan nama “Kaswari” sekitar tahun 1970-an. Sejak saat itu, mochi semakin identik sebagai oleh-oleh khas Sukabumi yang dikenal hingga ke berbagai daerah.

Mochi Kaswari Sukabumi (Foto sukabumiupdates.com)
Mengapa dinamai “Kaswari”?
Nama “Kaswari” sendiri diambil dari nama jalan tempat rumah produksinya berada, yaitu Jalan Kaswari yang terletak di Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi. Karena banyak masyarakat membeli mochi langsung dari rumah produksi tersebut, lama-kelamaan sebutan “Mochi Kaswari” pun semakin melekat di kalangan masyarakat. Meskipun saat ini sudah banyak merek mochi bermunculan, nama Mochi Kaswari tetap dikenal sebagai salah satu ikon oleh-oleh khas Sukabumi.
Perjalanan mochi dari hidangan upacara komunitas Tionghoa hingga menjadi oleh-oleh kebanggaan Sukabumi adalah bukti nyata bagaimana sebuah tradisi kuliner mampu melampaui batas budaya dan waktu. Di balık setiap gigitan kenyal dan manisnya, tersimpan cerita panjang tentang perpaduan budaya, ketekunan, dan rasa cinta terhadap kota yang diwariskan dari generasi ke generasi, jadi, jika suatu hari Anda berkunjung ke Sukabumi, jangan lupa membawa pulang sepotong sejarah dalam bentuk mochi.
Sumber : Diolah dari berbagai sumber (ln/js/rn+)
Kontributor : Luna Marcela
Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!