Ramai berita tentang adanya pihak Keraton Solo yang mengambil Bunga Wijayakusuma di Cilacap. Memang apa tujuannya?

ilustrasi foto : jl/pustakanira / istimewa
Yogyakarta, rexnewsplus.com – Ternyata, antara Bunga Wijayakusuma dengan sebuah tahta pemimpin di Jawa, memiliki keterkaitan yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
Salah satu kisahnya ada dalam Babad Kraton. Pada saat Keraton Plered Mataram Islam diserang oleh Trunojoyo, Amangkurat II selaku putra dari Amangkurat I mencoba merebut kembali tahta.
Suatu ketika, ia meminta kepada Ki Pranantaka untuk membantunya merebut tahta dan mencarikan bunga “Wijayamulya” di Wasigit Watu, sebuah tempat di Donan, Nusa Barambang (sekarang Nusakambangan Cilacap).
Untuk meraih ‘bunga suci’ tersebut tidak sembarangan. Saat itu, Ki Pranantaka perlu tirakat spritual dengan cara berpuasa dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa selama 7 hari.
Dalam babad tertulis dengan Bahasa Jawa yang lebih tua, “Tan aguling tan adhahar. Pitung dina ing Hyang Widhi, mugi angsala karya.”
Singkat cerita, ketika Widjojo Koesoemo muncul, kesan magis begitu terasa.
Dalam babad, peristiwa itu digambarkan jika “Pada hari ketujuh, di tengah malam, sebuah benda bercahaya muncul dari bumi. Itu adalah Wijayamulya atau Bunga Widjojo Koesoemo.”
Setelah Ki Pranantaka berhasil memperolehnya, ia lalu memberikan bunga itu kepada sang pemberi mandat yaitu Amangkurat II.
Sebagai bentuk terima kasih, Amangkurat II lantas mengangkat Ki Pranantaka menjadi seorang bangsawan dan memberinya nama baru yaitu Raden Arya Sindureja. (jl/js/rn+)
Kontributor : Djalu – Yogyakarta / Praktisi Pariwisata
Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!