Pelatihan SDM Pariwisata dan Dilema Loyalitas

percakapan ringan dalam sebuah forum diskusi menghasilkan gagasan yang bagus (foto ja/istimewa)

Jakarta, rexnewsplus.com – Pada suatu sore dalam sebuah pertemuan santai beberapa pengusaha biro perjalanan wisata, percakapan ringan berkembang menjadi diskusi yang cukup menarik mengenai masa depan sumber daya manusia pariwisata Indonesia.

Di tengah berbagai tantangan industri yang terus berubah, muncul gagasan agar asosiasi seperti AITTA dan IINTOA dapat lebih aktif menyelenggarakan pelatihan dan program berbagi pengalaman bagi generasi muda pariwisata. Tidak hanya untuk kalangan industri, tetapi juga melibatkan MGMP serta mendapat dukungan akademis dari Institut Pariwisata Trisakti sebagai salah satu institusi pendidikan pariwisata yang memiliki sejarah panjang dalam mencetak insan pariwisata nasional.

Pembicaraan tersebut terasa hangat karena hampir semua yang hadir memiliki pengalaman panjang di lapangan. Ada yang telah puluhan tahun menangani wisatawan mancanegara, memahami operasional tour, cruise handling, MICE, hingga penyusunan paket wisata dan pengelolaan destinasi. Mereka menyadari bahwa para anggota AITTA maupun IINTOA sesungguhnya merupakan aset industri yang sangat berharga.

Bukan hanya karena pengalaman bisnis yang dimiliki, tetapi karena mereka menyimpan pengetahuan praktis yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas. Pengalaman menghadapi tamu dari berbagai negara, menangani krisis operasional, memahami karakter pasar internasional, hingga menjaga hubungan dengan mitra luar negeri merupakan ilmu lapangan yang sangat penting diwariskan kepada generasi penerus industri pariwisata Indonesia.

Di tengah suasana diskusi yang penuh semangat itu, muncul satu pemikiran sederhana namun cukup menggelitik: mengapa banyak pelaku industri sebenarnya ingin berbagi ilmu, tetapi pada saat yang sama juga menyimpan keraguan?

Pertanyaan tersebut perlahan membawa pembicaraan pada realita yang sering terjadi dalam dunia kerja modern. Banyak perusahaan dengan tulus mengeluarkan biaya besar untuk pelatihan karyawan — mulai dari seminar, sertifikasi, workshop, hingga pendidikan lanjutan — dengan harapan ilmu yang diperoleh dapat kembali memberi manfaat bagi perusahaan dan industri secara keseluruhan.

Penulis sendiri pernah memiliki pengalaman menyekolahkan karyawan dari lulusan SMK hingga berhasil menyelesaikan pendidikan Strata 1. Tentu proses tersebut tidak dilakukan tanpa aturan, melainkan melalui sistem ikatan kontrak kerja yang disepakati bersama sejak awal.

Skemanya dibuat sederhana dan terukur. Masa ikatan kerja ditetapkan sebesar dua kali masa pembiayaan pendidikan. Sebagai contoh, apabila perusahaan membiayai kuliah hingga S1 selama empat tahun, maka karyawan memiliki kewajiban menjalani masa ikatan kerja selama empat tahun berikutnya setelah lulus.

Sebagai bentuk perlindungan investasi perusahaan, juga disepakati adanya konsekuensi apabila karyawan mengundurkan diri sebelum masa ikatan selesai. Dalam kasus tertentu, karyawan diwajibkan mengganti biaya pendidikan hingga beberapa kali lipat dari nilai yang telah dikeluarkan perusahaan.

para anggota AITTA maupun IINTOA sesungguhnya merupakan aset industri yang sangat berharga (foto ja/istimewa)

Dalam konteks pendidikan formal jangka panjang, persoalan semacam ini relatif masih dapat diukur. Masa pendidikan jelas, biaya jelas, dan hasilnya pun relatif terukur. Namun persoalan mulai menjadi lebih rumit ketika berbicara mengenai pelatihan singkat atau kursus jangka pendek.

Bagaimana misalnya dengan pelatihan satu bulan dengan biaya sekitar lima juta rupiah?

Secara nominal mungkin terlihat kecil dibanding pembiayaan pendidikan formal bertahun-tahun. Tetapi justru dari pelatihan-pelatihan singkat inilah sering muncul persoalan yang lebih kompleks. Setelah mendapatkan keterampilan baru, sertifikasi, atau akses jaringan industri, ada karyawan yang kemudian merasa memiliki nilai jual lebih tinggi dan memilih pindah ke tempat lain dalam waktu yang sangat singkat.

Di sisi perusahaan, muncul pertanyaan sederhana namun sulit dijawab: apakah pantas membuat ikatan kerja yang terlalu keras hanya untuk pelatihan bernilai lima juta rupiah? Tetapi bila tidak ada perlindungan sama sekali, perusahaan juga merasa dirugikan karena biaya pelatihan yang dikeluarkan pada akhirnya justru memberi manfaat bagi pihak lain.

Tidak sedikit pengusaha yang pada awalnya memiliki niat tulus untuk membantu karyawannya berkembang, bahkan memperlakukan mereka bukan sekadar pekerja, tetapi seperti keluarga sendiri. Ada yang rela membiayai pendidikan, memberikan kesempatan belajar, memperkenalkan jaringan usaha, hingga membimbing langsung dari nol agar karyawan memiliki masa depan yang lebih baik.

Namun rasa kecewa sering muncul ketika setelah berhasil menjadi lebih pintar, lebih terampil, dan lebih percaya diri, sebagian justru pergi tanpa rasa menghargai proses yang pernah diberikan. Dalam ungkapan masyarakat, situasi semacam ini sering disebut sebagai “kacang lupa kulitnya” atau bahkan “air susu dibalas air tuba”. (ja/js/rn+)

 

Nantikan artikel berikutnya dengan judul  Etika dan Attitude: Pelajaran yang Tidak Selalu Diajarkan

Kontributor : Jongki Adiyasa / Praktisi Pariwisata

Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *