BUKAN MOCHI ATAU SANTRI, IDENTITAS ASLI SUKABUMI INI TERNYATA SUDAH ADA SEJAK ZAMAN BELANDA

Potret Kegiatan Sekolah Polisi Pada Zaman Belanda (Foto Istimewa)
Sukabumi,rexnewsplus.com – Kalau kita mendengar kata “Sukabumi”, kebanyakan orang langsung beranggapan sebagai “Kota Mochi atau Kota Santri”. Wajar saja bahwa kedua identitas itu memang sudah melekat kuat, tapi ternyata ada satu identitas lain yang justru jauh lebih tua — dan punya jejak sejarah yang tidak main-main. Yaitu, Sukabumi adalah Kota Polisi.
Bukan sekadar julukan, tapi warisan nyata dari sejarah kepolisian Indonesia yang sudah dibangun lebih dari satu abad lalu, tepatnya sejak era kolonial Belanda. Bahkan status “Kota Polisi” itu kini resmi dan dikukuhkan melalui Keputusan Wali Kota Sukabumi Nomor 188.45/115-HUK/2022 pada 31 Maret 2022.
Sejarah Sukabumi Kota Polisi: Berawal dari Tahun 1912
Segalanya bermula pada tahun 1912, ketika Sukabumi dipilih sebagai lokasi Central Depot Gewapende Politie (Depo Polisi Bersenjata). Setahun kemudian pada 1913, dibangun depo polisi bersenjata lengkap dengan rumah sakit dan sekolah kader yang khusus mendidik agen polisi untuk ditempatkan di luar Jawa.
Bukan kebetulan Sukabumi terpilih menjadi lokasi depo polisi bersenjata, hal tersebut berdasarkan ketetapan nomor 16.A, berita negara nomor 172, bahwa Sukabumi dinyatakan sebagai tempat yang paling cocok untuk markas polisi bersenjata.
Konstruksi terus berlanjut hingga 1917, di mana depo tersebut telah diperbaiki dan dijadikan bangunan permanen yang lengkap dengan fasilitas listrik, rumah sakit, dan lapangan tembak.
Sempat Pindah ke Bogor, Tapi Kembali Lagi
Pada tahun 1920, kursus polisi pernah sempat dipindahkan ke Panaragan, Bogor. Pendidikan polisi mulai dibedakan antara polisi lapangan bersenjata dan polisi administratif. Pemerintah kolonial merasa pendidikan calon perwira dan pejabat polisi akan lebih efektif apabila ditempatkan dekat pusat kekuasaan kolonial di Batavia dan Bogor. Bogor saat itu bukan kota biasa. Di sana terdapat Istana Gubernur Jenderal dan banyak lingkungan elite pemerintahan Hindia Belanda. Dari Bogor, pengawasan terhadap pendidikan polisi bisa dilakukan lebih langsung oleh pejabat tinggi kolonial.
Selain itu, suasana Sukabumi dianggap terlalu identik dengan pelatihan semi-militer. Depo di sana sudah berkembang menjadi pusat latihan yang keras dan lebih cocok untuk membentuk polisi lapangan bersenjata. Sementara pemerintah kolonial sedang mencoba membentuk tipe polisi baru yang lebih birokratis dan administratif, mengikuti model kepolisian modern di Eropa. Karena itu sebagian pendidikan polisi dipindahkan ke Bogor dengan tujuan menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih dekat dengan pusat administrasi negara daripada lingkungan barak semi-militer.
Tetapi setelah beberapa tahun, pemerintah kolonial menyadari pemisahan itu tidak berjalan seefisien yang dibayangkan. Sukabumi ternyata sudah memiliki fasilitas jauh lebih lengkap: asrama besar, lapangan latihan, rumah sakit, gudang senjata, serta sistem pendidikan yang sudah mapan. Selain itu, kebutuhan polisi di Hindia Belanda pada akhirnya tetap lebih banyak membutuhkan personel lapangan dibanding pejabat administratif. Karena alasan efisiensi dan kebutuhan praktis, sekitar 1925 pendidikan polisi di Bogor dipindahkan kembali dan digabungkan lagi ke Sukabumi dengan nama Politie School, menjadikan Sukabumi sebagai pusat pendidikan kepolisian Hindia Belanda.
Dari sinilah para perwira polisi ditempa untuk menjaga ketertiban di seluruh wilayah Nusantara. Inilah alasan utama kenapa Kota Sukabumi layak disebut kota polisi — bukan sekadar kebetulan, tetapi karena peran historisnya yang sangat nyata.
Direbut Jepang, Lalu Diambil Kembali oleh Polisi Indonesia
Tahun 1942, Politie School dikuasai Jepang dan diubah menjadi Jawakaisatsu, yang mendidik kader polisi tinggi dan polisi rendah. Perubahan itu bukan hanya pergantian nama. Jepang mengubah fungsi polisi secara besar-besaran. Pada zaman Belanda, polisi terutama dipakai untuk menjaga ketertiban kolonial dan melindungi kepentingan administrasi sipil. Sedangkan pada masa Jepang, polisi dijadikan bagian dari mesin perang Asia Timur Raya. Jepang sedang berperang besar dalam Perang Dunia II dan membutuhkan kontrol total terhadap penduduk Jawa. Pendidikan polisi di Sukabumi juga berubah. Jepang memasukkan latihan yang lebih militeristis dan ideologi kekaisaran Jepang. Para siswa dilatih dengan disiplin ala tentara Jepang: keras, penuh hukuman fisik, dan menekankan ketaatan mutlak kepada Kaisar Jepang (Tenno Heika). Bahasa Belanda dihapus dan diganti dengan istilah Jepang. Struktur pangkat pun banyak disesuaikan dengan sistem Jepang.
Alasan Jepang mempertahankan dan mengembangkan sekolah polisi di Sukabumi sebenarnya sangat praktis dan strategis. Jawa adalah wilayah paling penting di Hindia Belanda karena penduduknya besar dan ekonominya kuat. Jepang membutuhkan aparat lokal untuk mengendalikan jutaan penduduk tanpa harus menempatkan terlalu banyak tentara Jepang sendiri. Polisi pribumi menjadi alat yang sangat penting untuk itu.
Selain itu Jepang sadar bahwa mereka tidak akan bisa memerintah lama hanya dengan kekuatan militer asing. Maka mereka mulai melatih orang Indonesia menjadi aparat keamanan. Banyak pemuda pribumi diberi kesempatan masuk pendidikan polisi dan militer. Walaupun tujuan awal Jepang adalah untuk kepentingan perang, tanpa disadari pendidikan itu justru menjadi pengalaman penting bagi calon aparat Indonesia setelah kemerdekaan.
Menariknya, banyak bekas anggota polisi zaman Jepang kemudian menjadi tokoh penting kepolisian Republik Indonesia sesudah 1945. Mereka sudah memiliki pengalaman organisasi, disiplin militer, penggunaan senjata, dan jaringan komando. Karena itu ada hubungan langsung antara polisi kolonial Belanda, polisi Jepang (Jawa Keisatsu), dan kepolisian Indonesia setelah merdeka.
Ketika Jepang kalah tahun 1945, sekolah polisi di Sukabumi kembali berubah fungsi. Para pemuda Indonesia mengambil alih fasilitas tersebut dan mulai membangun kepolisian nasional Republik Indonesia.
Di antara lulusannya tercatat nama-nama besar — termasuk Kapolri ke-3 Mayjen Pol. R. Sutjipto Danukusumo dan Kapolri ke-5 Jenderal Polisi Hoegeng.
Fakta menarik: Hoegeng bahkan menempuh kursus kepolisian di Sukabumi sebelum akhirnya menjadi salah satu Kapolri paling legendaris dalam sejarah Indonesia — dikenal karena kejujuran dan penolakan terhadap segala bentuk suap dan korupsi.
Pada 1 Oktober 1945, sekolah polisi berhasil diambil alih dari Jepang oleh polisi Indonesia, dan pendidikan dilanjutkan dengan nama Sekolah Polisi Negara (SPN). Tanggal ini kini kita kenal sebagai Hari Kesaktian Polri — dan Sukabumi ada di jantung sejarahnya.

Bekas Penjara Van Delden Di Kota Sukabumi (Foto Istimewa)
Penjara Van Delden: Sisi Kelam di Balik Sejarah Kota Polisi
Di balik sejarah kepolisian Sukabumi, ada satu nama yang menyimpan cerita kelam Penjara Militer Van Delden. Berlokasi di kawasan Gunung Puyuh, Sukabumi, penjara ini digunakan oleh tentara Belanda pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Berdasarkan kesaksian Atjep Abidin, anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Takokak, usai terjadi penyerangan terhadap pos-pos militer Belanda, operasi pembersihan langsung dilancarkan. Rakyat sipil dikumpulkan, diintimidasi, dan para lelaki di antaranya diangkut ke penjara militer Van Delden.
Nasib para tahanan itu tragis. Mereka kemudian dibawa dengan truk-truk militer menuju Takokak, Cianjur — sebuah daerah perbatasan Sukabumi yang sejak 1947 dikenal sebagai pusat eksekusi orang-orang Indonesia. Rata-rata para korban ditemukan tewas dengan lubang peluru di tengkuk. Tragedi ini kini dikenang sebagai Pembantaian Takokak 1948, salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah perjuangan rakyat Sukabumi dan Cianjur.
Ironisnya, kompleks Van Delden ini berada di area yang sama dengan sekolah polisi Sukabumi. Bahkan ulama besar Buya Hamka pada era Orde Lama pernah ditahan di bekas villa Van Delden yang berada di kompleks sekolah polisi tersebut — di tempat yang kini telah berubah menjadi lapangan tenis.
Setukpa Lemdiklat Polri: Warisan 100 Tahun yang Masih Berdiri
Dari semua jejak sejarah itu, yang paling nyata hingga hari ini adalah Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lemdiklat Polri di Sukabumi. Didirikan dengan akar sejak 1912, Setukpa bukan institusi biasa — ia adalah kelanjutan langsung dari depot polisi yang dibangun Belanda lebih dari satu abad lalu.
Pada 2003, Secapa Polri resmi berubah menjadi Setukpa Lemdiklat Polri berdasarkan Skep Kapolri No. Pol: Skep/95/XII/2003. Ribuan perwira Polri telah ditempa di sini, dari generasi ke generasi — sebuah warisan hidup yang akarnya tertancap jauh ke masa kolonial.
Identitas yang Jarang Diketahui, Tapi Layak Dibanggakan
Mochi memang enak. Pesantren di Sukabumi memang punya peran besar dalam pendidikan Islam nasional. Tetapi sejarah Sukabumi sebagai Kota Polisi ini — dari depot senjata Belanda, penjara militer Van Delden, hingga lahirnya Kapolri-Kapolri legendaris — adalah cerita yang terlalu sayang untuk dilupakan.
Wali Kota Sukabumi sendiri menegaskan kebanggaannya bahwa Sukabumi memiliki sejarah penting sebagai tempat pendidikan polisi pertama di Indonesia yang dimulai pada tahun 1913.
Sukabumi adalah Kota Polisi. Dan itu bukan hal baru — itu adalah identitas yang sudah diukir sejak 1912.
Sumber: Dokumentasi Pimpinan Pemkot Sukabumi — kdp.sukabumikota.go.id
Sumber: Keputusan Walikota Sukabumi No. 188.45/115-HUK/2022 | kdp.sukabumikota.go.id
Sumber: Profil Setukpa Lemdiklat Polri — setukpa.com
Sumber: Detik News — news.detik.com
Sumber: Historia.id — Bertahan di Barat Jawa | Sukabumiupdate.com — Tragedi Takokak 1948 | Sukabumiupdate.com — Buya Hamka dan Penjara Sukabumi (mo/js/rn+)
Kontributor: Maudia Intann
Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!