Melintasi Batas Iman: Ketika Toleransi dan Profesionalisme Tour Leader ITLA Menyatu dalam Pelayanan

Flyer kegiatan, Idfi Pancani – Anggota ITLA (foto istimewa)
Jakarta, rexnewsplus.com – Di balik perjalanan wisata yang melintasi berbagai belahan dunia, ada kisah-kisah kecil tentang empati yang sering kali luput dari perhatian. Bagi wisatawan Muslim yang bepergian ke negeri asing, menemukan makanan halal atau tempat yang layak untuk menunaikan ibadah menjadi kebutuhan penting yang tidak selalu mudah dipenuhi.
Namun, bagi seorang tour leader profesional, kebutuhan tersebut bukan sekadar persoalan teknis perjalanan. Di situlah empati, kepekaan, dan profesionalisme diuji. Perbedaan keyakinan justru dapat menjadi ruang untuk menghadirkan pelayanan yang lebih manusiawi, aman, dan nyaman.
Semangat tersebut menjadi bagian dari Sharing Session “Beyond The Basics: A Practical Guide to Leading Muslim Travelers”, yang digelar secara daring melalui Zoom, Kamis (13/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program berkelanjutan Tour Leader Next-Level yang diinisiasi oleh Indonesia Tour Leader Association (ITLA) untuk meningkatkan kompetensi sekaligus kepekaan para tour leader dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan dengan latar belakang yang beragam.
Belajar Memahami Kebutuhan Wisatawan Muslim
Sebanyak 52 peserta dari berbagai latar belakang agama dan keyakinan mengikuti sesi tersebut. Menariknya, tidak semua peserta merupakan Muslim. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa profesionalisme seorang tour leader tidak berhenti pada kemampuan mengatur itinerary, transportasi, akomodasi, maupun aktivitas wisata.
Lebih dari itu, tour leader dituntut mampu memahami kebutuhan personal dan budaya wisatawan yang didampinginya.
Bagi peserta non-Muslim, sesi ini menjadi kesempatan untuk memahami secara lebih konkret kebutuhan wisatawan Muslim ketika melakukan perjalanan, khususnya di negara-negara non-Muslim.
Pemahaman tersebut diharapkan dapat menghilangkan keraguan maupun kekhawatiran yang selama ini mungkin muncul ketika harus mendampingi wisatawan Muslim dalam perjalanan internasional.
Dari Waktu Shalat hingga Mencari Makanan Halal
Sharing session dipandu oleh Idfi Pancani, tour leader senior yang telah berpengalaman memimpin perjalanan ke lebih dari 50 negara di lima benua.
Materi disampaikan secara praktis dan dekat dengan situasi yang benar-benar dihadapi tour leader di lapangan.
Salah satu pembahasan adalah bagaimana membantu wisatawan Muslim memenuhi kebutuhan ibadah selama perjalanan. Mulai dari menentukan waktu shalat dan arah kiblat secara dinamis, memahami konsep shalat qashar, hingga menemukan ruang yang bersih dan layak digunakan sebagai tempat beribadah.
Persoalan bersuci di fasilitas umum juga menjadi perhatian. Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai etika dan cara berwudhu di tempat umum dengan tetap memperhatikan kebersihan, kenyamanan pengguna fasilitas lain, serta norma yang berlaku di negara setempat.
Tak kalah penting adalah persoalan makanan halal. Tour leader perlu memiliki kejelian ketika memilih restoran maupun makanan yang aman bagi wisatawan Muslim. Termasuk kemampuan membaca komposisi bahan makanan, mengonfirmasi kandungan makanan kepada pihak hotel atau restoran, hingga memanfaatkan teknologi untuk membantu memastikan pilihan makanan halal.
Hal-hal yang terlihat sederhana tersebut dalam praktiknya dapat memberikan rasa aman yang sangat berarti bagi wisatawan.
Profesionalisme Melampaui Perbedaan Keyakinan
Bagi ITLA, pemahaman mengenai kebutuhan wisatawan Muslim bukan dimaksudkan untuk membatasi pelayanan berdasarkan agama. Sebaliknya, hal tersebut menjadi bagian dari upaya membangun standar pelayanan yang inklusif.
Seorang tour leader tidak harus memiliki keyakinan yang sama dengan wisatawannya untuk dapat memberikan pelayanan yang baik. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memahami, menghormati, dan membantu memenuhi kebutuhan wisatawan secara profesional.
Dari sinilah toleransi dan profesionalisme bertemu.
Ruang belajar tersebut pun berkembang menjadi lebih dari sekadar sesi peningkatan kompetensi. Ia menjadi jembatan untuk membangun pemahaman lintas iman dan memperkuat semangat saling menghargai dalam dunia pariwisata.
ITLA: Pelayanan dengan Kompetensi dan Hati
Presiden ITLA, Bob Moningka, mengapresiasi antusiasme para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.
Menurutnya, program semacam ini perlu terus dikembangkan agar tour leader ITLA tidak hanya semakin kompeten secara teknis, tetapi juga semakin peka terhadap kebutuhan wisatawan yang mereka layani.

Bob Moningka – Ketua Umum ITLA (foto koleksi pribadi / istimewa)
“Program seperti ini akan terus berlanjut agar para tour leader ITLA semakin paham, makin peka, dan terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada para tamu Muslim secara profesional dan dengan hati yang tulus,” ungkap Bob Moningka Kamis (13/8/2026) kepada rexnewsplus.com.
Melalui program Tour Leader Next-Level, ITLA ingin menegaskan bahwa profesi tour leader terus berkembang. Memimpin perjalanan bukan semata-mata tentang mengantarkan wisatawan dari satu destinasi ke destinasi lainnya, tetapi juga tentang menciptakan rasa aman, memberikan kenyamanan, menghormati keberagaman, dan membangun pengalaman perjalanan yang bermakna.
Pada akhirnya, perjalanan wisata mungkin membawa seseorang melintasi batas negara dan benua. Namun, profesionalisme dan empati seorang tour leader justru mampu melintasi batas-batas perbedaan—termasuk batas iman. (rm/bm/js/rn+)
Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!