TIDAK ADA SUARA CAKAP CANDA TAWA BAHKAN LANGKAH KAKIPUN TIDAK SAAT NYEPI DI PULAU DEWATA

Suasana nyepi di salah satu pemukiman di Bali (foto jeme)
Bali,rexnewsplus.com – Beberapa bulan lalu saya memutuskan untuk tinggal di Bali, sebuah pulau impian yang begitu indah. Saya berasal dari wilayah timur Indoensia, tepatnya dari Bima. Saya ke Bali bukan untuk mengadu nasib, tetapi untuk mencari rezeki sesuai kemampuan.
Hari-hari di Bali yang menyenangkan saya jalani dengan bahagia dan semangat membara. Udara panas di bali hampir sama dengan udara panas di Bima, tetapi secercah harapan ada di sini.
Sekian puluh tahun yang saya tunggu-tunggu rupanya akan benar-benar dialami, sebuah pengalaman yang selama ini tahu dari cerita-cerita kerabat dan literasi buku dan berita.
Nyepi…..
Dan hari ini menjadi pengalaman pertama saya menjalani suasana Nyepi di Bali, sebuah momen yang tidak hanya sunyi secara suasana, tetapi juga begitu dalam secara makna.
Sejak pagi, tidak ada hiruk-pikuk kendaraan, tidak terdengar suara aktivitas manusia, bahkan langit terasa lebih lapang tanpa lalu lintas udara. Bali benar-benar berhenti, memberi ruang bagi setiap orang untuk kembali pada dirinya sendiri.
Saya gelisah, suasana begitu sepi, sunyi, hening.
Tetapi dalam keheningan itu, saya justru menemukan ketenangan yang jarang saya rasakan sebelumnya. Tidak ada distraksi, tidak ada tuntutan, hanya suasana sepi yang menenangkan pikiran. Waktu seolah berjalan lebih lambat, memberi kesempatan untuk merenung, mensyukuri hidup, dan memahami arti sederhana dari “diam”.
Nyepi bukan sekadar tradisi, tetapi sebuah pengalaman spiritual yang mengajarkan pentingnya jeda di tengah kehidupan yang serba cepat. Saya sangat menikmati setiap detik dalam kesunyian ini—hening yang tidak kosong, tetapi penuh makna.
Sebagai seseorang yang baru pertama kali merasakan Nyepi di Bali, saya bisa mengatakan bahwa ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Di tengah dunia yang bising, Nyepi mengajarkan bahwa ketenangan adalah sebuah kemewahan yang patut disyukuri.
Hari ini masih siang, saya coba mengintip suasana luar rumah dari balik ruang tamu, sepi. Tak seorangpun terlihat, bahkan bunyi langkah kaki pun tidak ada.
Saya tengah menanti dengan degup jantung yang tidak beraturan, dan bermain dengan pikiran sendiri, apa yang akan terjadi malam nanti ?

Penulis : Jeme Hungga Mattalu, pegiat pariwisata
Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!