Mengukur Arah Reformasi Pariwisata Indonesia dalam Dinamika Global

Dream Cruise berlabuh di Tanjung Perak Surabaya (foto salsatour.com / istimewa)

Bagian 4: Menjaga Ekosistem Wisata Kapal Pesiar yang Sehat

Jakarta, rexnewsplus.com – Setiap kali sebuah kapal pesiar bersandar di Pelabuhan, berbagai aktivitas langsung bergerak secara bersamaan. Bus wisata bersiap, pemandu menunggu di titik penjemputan, dan ratusan wisatawan turun dengan harapan memperoleh pengalaman terbaik selama singgah di kota.

Di balik seluruh aktivitas tersebut, terdapat sebuah ekosistem yang bekerja secara terstruktur. Ekosistem ini melibatkan operator kapal pesiar, tour operator resmi, perusahaan transportasi, pemandu wisata, serta berbagai pelaku usaha di destinasi yang dikunjungi.

Ekosistem ini tidak terbentuk secara instan. Ia dibangun melalui proses panjang yang melibatkan investasi waktu, tenaga, dan komitmen terhadap standar pelayanan serta keselamatan.

Tour operator resmi, misalnya, tidak sekadar menjual perjalanan. Mereka merancang program wisata melalui survei lapangan, perhitungan waktu tempuh, pemilihan rute yang aman, serta koordinasi dengan berbagai pihak di lapangan. Mereka juga memastikan kendaraan layak jalan, pemandu memiliki kompetensi, dan wisatawan mendapatkan perlindungan asuransi yang memadai.

Selain itu, kerja sama antara tour operator resmi dan pihak kapal pesiar memberikan manfaat langsung bagi kedua belah pihak. Tour operator memperoleh kesempatan usaha yang sehat, sementara pihak kapal pesiar memperoleh jaminan kualitas layanan serta kontribusi finansial melalui sistem komisi atau pembagian keuntungan.

Dalam sistem seperti ini, setiap pihak memiliki peran yang jelas, tanggung jawab yang terukur, serta kontribusi nyata terhadap keberlangsungan industri.

Namun dalam praktik di lapangan, tidak jarang muncul fenomena yang berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem tersebut.

Pada saat kedatangan kapal pesiar, sering terlihat individu atau kelompok yang menawarkan paket wisata secara langsung kepada wisatawan di sekitar kawasan pelabuhan. Dalam istilah sehari-hari, mereka sering disebut sebagai pedagang jasa wisata tidak resmi.

Antara travel agent resmi, pedagang asong di Pelabuhan Tanjung Perak (foto JA/Istimewa)

Sekilas, fenomena ini mungkin terlihat sebagai bagian dari dinamika ekonomi yang wajar. Namun jika dilihat lebih dalam, muncul pertanyaan penting mengenai legalitas, tanggung jawab, serta dampak jangka panjang terhadap industri.

Persaingan dalam dunia usaha adalah hal yang wajar. Bahkan, persaingan yang sehat mendorong inovasi dan meningkatkan kualitas layanan. Namun persaingan hanya dapat berjalan secara sehat apabila seluruh pelaku usaha bermain dengan aturan yang sama.

Dalam praktiknya, program wisata yang ditawarkan oleh pelaku tidak resmi sering kali bukan hasil perencanaan yang benar-benar baru. Tidak sulit untuk menduga bahwa sebagian program tersebut merupakan hasil adaptasi atau bahkan penyalinan dari program wisata yang telah dirancang oleh tour operator resmi.

Padahal menyusun sebuah program wisata kapal pesiar bukanlah pekerjaan sederhana.

Di balik sebuah itinerary, terdapat proses panjang yang melibatkan survei lokasi, perhitungan waktu secara detail, pengaturan logistik, serta pengendalian risiko. Semua proses tersebut dilakukan untuk memastikan wisata berjalan aman, tepat waktu, dan memberikan pengalaman yang memuaskan bagi wisatawan.

Tour operator resmi juga menanggung berbagai kewajiban administratif yang tidak kecil. Mereka memastikan kendaraan memenuhi standar keselamatan, pengemudi memiliki lisensi yang sesuai, pemandu wisata memiliki sertifikasi, serta seluruh kegiatan dilindungi oleh asuransi.

Selain itu, mereka juga memiliki kewajiban perpajakan serta berbagai bentuk tanggung jawab hukum lainnya.

Di sinilah muncul ketimpangan ketika terdapat pihak-pihak yang menawarkan program serupa tanpa melalui proses dan kewajiban yang sama.

Jika sebuah program wisata dapat dijual tanpa investasi dalam perencanaan, tanpa perlindungan asuransi yang jelas, serta tanpa kewajiban administratif yang setara, maka pada dasarnya terjadi persaingan yang tidak seimbang.

Ketimpangan ini tidak hanya merugikan pelaku usaha resmi, tetapi juga berpotensi merugikan pihak kapal pesiar.

Perlu dipahami bahwa dalam kerja sama resmi, tour operator memberikan kontribusi finansial kepada pihak kapal pesiar melalui margin markup. Kontribusi ini merupakan bagian penting dari model bisnis kapal pesiar.

Sebaliknya, ketika wisatawan menggunakan jasa tidak resmi, maka potensi pendapatan yang seharusnya diterima oleh pihak kapal pesiar menjadi hilang.

Jika dalam satu kunjungan terdapat ratusan wisatawan yang memilih jasa tidak resmi, maka potensi pendapatan yang hilang dapat menjadi signifikan.

ilustrasi Travel Agent Cruise (foto cruisewithleo.com / istimewa)

Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat menimbulkan pertanyaan rasional dari pihak operator kapal pesiar: apakah sebuah pelabuhan yang tidak tertib secara operasional layak untuk terus dikunjungi?

Risiko lain yang tidak kalah penting adalah keselamatan wisatawan.

Dalam program wisata resmi, setiap kegiatan dirancang dengan mempertimbangkan faktor keselamatan dan ketepatan waktu. Semua peserta harus kembali ke kapal sesuai jadwal, karena kapal pesiar memiliki jadwal pelayaran yang ketat.

Namun ketika wisatawan menggunakan jasa yang tidak memiliki standar operasional yang jelas, risiko keterlambatan menjadi lebih besar. Jika seorang wisatawan terlambat kembali ke kapal, dampaknya bisa sangat kompleks — mulai dari biaya tambahan hingga gangguan operasional.

Selain itu, terdapat pula risiko terkait perlindungan hukum dan asuransi. Jika terjadi kecelakaan dalam program yang tidak memiliki perlindungan memadai, maka proses penanganannya dapat menjadi rumit dan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap citra destinasi.

Dalam era komunikasi digital, satu pengalaman negatif dapat dengan cepat menyebar melalui berbagai platform ulasan perjalanan. Kejadian yang awalnya kecil dapat berkembang menjadi persepsi negatif yang memengaruhi citra sebuah destinasi di mata wisatawan internasional.

Reputasi dalam industri pariwisata adalah aset yang sangat berharga.

Sekali citra sebuah destinasi dinilai tidak profesional atau tidak aman, maka diperlukan waktu yang panjang untuk memulihkannya.

Karena itu, keberadaan aturan menjadi sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem usaha.

Namun aturan tidak akan memiliki arti jika tidak diikuti dengan penegakan yang konsisten.

Fenomena penawaran jasa wisata tidak resmi di sekitar kawasan Pelabuhan pada dasarnya bukan hanya persoalan persaingan usaha, tetapi juga menyangkut legalitas, keselamatan, serta tanggung jawab terhadap wisatawan.

Penegakan aturan bukan dimaksudkan untuk membatasi ruang usaha masyarakat, tetapi untuk memastikan bahwa setiap kegiatan usaha berjalan dalam kerangka yang sah dan bertanggung jawab.

Pelaku usaha resmi telah berinvestasi dalam perizinan, pelatihan sumber daya manusia, standar keselamatan, serta perlindungan asuransi. Mereka juga memberikan kontribusi kepada negara melalui kewajiban perpajakan, serta berperan dalam menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan.

Sebaliknya, kegiatan usaha di luar sistem resmi berpotensi menciptakan ketimpangan yang merugikan banyak pihak.

Jika kondisi ini dibiarkan, maka pelaku usaha yang patuh terhadap aturan dapat merasa dirugikan, sementara pelaku yang tidak patuh justru memperoleh keuntungan jangka pendek tanpa menanggung beban yang sama.

Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat menurunkan kepercayaan pelaku usaha resmi, serta mengurangi minat investasi dalam sektor pariwisata kapal pesiar.

Karena itu, diperlukan penegakan aturan yang konsisten dan berimbang.

Penutup:

Penegakan aturan bukan berarti menutup kesempatan usaha, tetapi memastikan bahwa setiap pelaku memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang — dengan cara yang sah, aman, dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, menjaga ketertiban usaha bukan hanya melindungi pelaku usaha resmi, tetapi juga melindungi wisatawan, menjaga reputasi destinasi, serta memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Menjaga ekosistem yang sehat bukan hanya tentang melindungi usaha hari ini, tetapi tentang menjaga masa depan pariwisata kapal pesiar Indonesia. (ja/js/rn+)

  Jongki Adiyasa / Praktisi Pariwisata.

 

 

Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *