Apresiasi terhadap Inisiatif Kolaboratif Lomba Tour Package SMK 24 Jakarta

foto bersama juri dan peserta / pemenang (foto istimewa)
Seri Dari Meja Jongki Adiyasa
Sebagai pelaku pariwisata inbound tour yang sehari-hari berkecimpung dalam proses tour planning, mulai dari merancang perjalanan, menghitung harga pokok paket wisata, hingga menyusun penawaran kepada klien internasional, saya memandang kegiatan lomba penyusunan tour package yang diselenggarakan oleh SMK 24 Jakarta pada tanggal 15–16 April 2026, serta melibatkan partisipasi siswa-siswi dari berbagai SMK Usaha Layanan Wisata (ULW) di Jakarta, sebagai sebuah inisiatif kolaboratif yang sangat patut diapresiasi.
Bidang tour planning merupakan salah satu fondasi penting dalam industri pariwisata. Di balik setiap perjalanan wisata yang berjalan dengan lancar dan memberikan pengalaman berkesan bagi wisatawan, terdapat proses perencanaan yang matang serta perhitungan biaya yang cermat. Oleh karena itu, kegiatan seperti lomba penyusunan paket wisata ini memiliki nilai strategis dalam menumbuhkan minat generasi muda terhadap profesi tour planner dan tour consultant.
Pengenalan keterampilan menyusun paket wisata sejak di bangku sekolah kejuruan merupakan langkah yang sangat tepat. Melalui kegiatan seperti ini, siswa tidak hanya belajar menyusun itinerary, tetapi juga memahami pentingnya menghitung harga pokok paket wisata secara akurat serta menyusun penawaran yang realistis dan kompetitif. Dengan demikian, di masa depan diharapkan akan lahir lebih banyak tenaga profesional muda yang siap berkontribusi dalam memajukan pariwisata Indonesia.

Dewan Juri saat melakukan penilaian (foto istimewa)
Catatan sebagai Juri
Sebagai juri dalam kegiatan lomba tersebut, saya melihat adanya perkembangan yang cukup menggembirakan dari para peserta. Secara umum, siswa telah mampu menyusun tour itinerary dengan struktur yang rapi dan tampilan yang menarik. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah mengenal format dasar penyusunan program perjalanan wisata.
Namun demikian, terdapat satu catatan penting yang perlu menjadi perhatian bersama, khususnya dalam pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI). Dari hasil pengamatan selama penilaian, terlihat bahwa sebagian peserta menghasilkan dokumen dengan tampilan bahasa Inggris yang baik dan terstruktur. Akan tetapi, pada saat sesi presentasi berlangsung, sebagian besar peserta hanya mampu menyampaikan materi dalam bahasa Indonesia, bahkan dalam beberapa kesempatan masih belum menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam penyusunan materi belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman terhadap isi yang disajikan. Bahasa yang tampak rapi dalam dokumen seharusnya mencerminkan pemahaman yang sama kuatnya saat dipresentasikan secara lisan. Dalam dunia pariwisata, khususnya pada bidang tour planning dan tour consulting, kemampuan komunikasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kemampuan teknis menyusun program wisata.
Penggunaan AI pada dasarnya bukan sesuatu yang perlu dihindari, melainkan alat bantu yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara bijak. Namun, penting bagi siswa untuk menjadikan AI sebagai pendukung proses belajar, bukan sebagai pengganti pemahaman. Dengan memahami setiap komponen itinerary yang disusun, siswa akan lebih percaya diri dalam menjelaskan program yang dibuat, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

pemaparan oleh siswa di hadapan dewan juri (foto istimewa)
Catatan tentang Skill dan Knowledge Peserta
Selain aspek komunikasi, terdapat pula catatan lain yang berkaitan dengan keterampilan (skill) dalam menyusun program perjalanan wisata. Dalam beberapa karya peserta, ditemukan itinerary yang kurang memperhatikan aspek realistis operasional. Misalnya, terdapat program perjalanan yang dimulai sejak pagi hari dan berakhir sekitar pukul 22.00 malam, kemudian dilanjutkan kembali pada hari berikutnya mulai pukul 02.00 dini hari hingga malam hari.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyusunan itinerary belum sepenuhnya mempertimbangkan kenyamanan wisatawan, waktu istirahat yang wajar, serta standar operasional dalam penyelenggaraan perjalanan wisata. Dalam praktik nyata industri pariwisata, faktor kenyamanan tamu dan keberlanjutan stamina selama perjalanan merupakan hal yang harus diperhitungkan secara matang oleh seorang tour planner.
Selain aspek keterampilan, pengetahuan dasar (knowledge) juga menjadi perhatian penting. Dalam salah satu contoh, terdapat peserta yang membuat program dengan tujuan Central Java, namun keseluruhan isi program justru berfokus pada destinasi di wilayah Yogyakarta. Hal ini menunjukkan adanya kekeliruan dalam memahami pembagian wilayah administratif dan destinasi wisata di Pulau Jawa.
Pada saat sesi diskusi, rekan juri dari kalangan akademisi, Ibu Leni dari Universitas Asa Indonesia, sempat menanyakan jumlah provinsi yang terdapat di Pulau Jawa. Pertanyaan mendasar tersebut ternyata masih menimbulkan kebingungan pada peserta. Bahkan, ketika dipandu untuk menyebutkan satu per satu provinsi, terdapat peserta yang menyebutkan Jakarta Utara sebagai salah satu provinsi.
Hal ini menjadi pengingat bahwa dalam penyusunan paket wisata, pengetahuan dasar mengenai geografi dan pembagian wilayah merupakan fondasi yang tidak dapat diabaikan. Tanpa landasan pengetahuan yang kuat, sebuah program wisata berpotensi kehilangan akurasi dan kredibilitasnya.
Perlu dipahami pula bahwa peserta yang mengikuti lomba semacam ini pada umumnya merupakan siswa pilihan yang diharapkan memiliki kemampuan lebih dibandingkan rekan-rekannya yang tidak tampil. Namun demikian, saya berharap bahwa mereka yang tampil bukan semata-mata yang paling mahir, melainkan mereka yang memiliki motivasi lebih tinggi untuk belajar. Jika demikian, maka hal ini justru menjadi sinyal positif bahwa semangat belajar generasi muda masih sangat besar dan perlu terus diarahkan dengan pembinaan yang tepat.

Penyerahan piala dan piagam bagi juara 1 (foto istimewa)
Penguatan Pembelajaran Interaktif untuk Masa Depan Tour Planning
Sebagai pelaku senior dalam bidang tour planning sekaligus guest lecturer pada materi yang sama, saya melihat bahwa pembelajaran di bidang ini telah berjalan dengan baik dan terus berkembang mengikuti kebutuhan industri.
Metode pembelajaran interaktif yang selama ini telah dijalankan merupakan langkah yang tepat, dan kiranya dapat dilakukan secara lebih intensif dan berkesinambungan. Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga dapat merasakan kenikmatan dan kepuasan ketika sebuah program tour berhasil disusun secara logis dan menyeluruh.
Perasaan puas ketika sebuah program terbentuk secara utuh—mulai dari perencanaan rute, penyusunan itinerary, hingga perhitungan komponen biaya—merupakan pengalaman belajar yang sangat berharga. Terlebih lagi apabila program tersebut selaras dengan kebutuhan industri, maka siswa akan merasakan bahwa apa yang mereka pelajari memiliki relevansi nyata dengan dunia kerja.
Ke depan, dengan penguatan pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan industri, diharapkan para siswa tidak hanya mampu menyusun program untuk produk wisata yang sudah ada, tetapi juga terdorong untuk menciptakan produk-produk baru yang lebih kreatif, inovatif, dan kekinian. Inovasi inilah yang akan menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjaga daya saing pariwisata Indonesia di masa mendatang.
Salam,
Jongki Adiyasa
Praktisi Pariwisata


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!