Mengukur Arah Reformasi Pariwisata Indonesia dalam Dinamika Global

Kedatangan kapal pesiar di Tanjung perak Surabaya (foto js/istimewa)
Bagian 3: Pelabuhan Menyambut Kapal Pesiar
— Siap Take Off atau Ah Cuek Saja?
Jakarta, rexnewsplus.com – Setiap kali sebuah kapal pesiar merapat di pelabuhan, sesungguhnya bukan hanya kapal yang datang. Bersamanya hadir ribuan orang yang membawa peluang ekonomi bagi kota yang disinggahi.
Satu kapal pesiar dapat membawa lebih dari seribu penumpang, ditambah jumlah awak kapal yang tidak kalah besar. Dalam waktu singkat, ribuan orang ini berpotensi menciptakan pergerakan ekonomi yang luas — mulai dari transportasi, jasa pemandu wisata, restoran, hingga pusat perbelanjaan.
Namun, potensi tersebut tidak akan berarti banyak jika tidak dikelola dengan cara yang tepat.
Sebagai ilustrasi sederhana, jika dari sekitar 1.000 penumpang terdapat 500 orang yang mengikuti kegiatan wisata darat, maka puluhan kendaraan akan bergerak, pemandu wisata akan bekerja, dan berbagai destinasi akan menerima kunjungan dalam waktu yang sama.
Belum lagi awak kapal yang biasanya memanfaatkan waktu singgah untuk membeli kebutuhan sehari-hari atau menikmati kuliner lokal. Aktivitas kecil seperti membeli makanan ringan atau kebutuhan pribadi, jika dilakukan oleh ratusan orang, akan menciptakan perputaran ekonomi yang nyata.
Namun, satu faktor penting yang sering terlewat adalah lama waktu kapal berada di pelabuhan.
Dalam praktiknya, banyak kapal pesiar hanya singgah sekitar 12 jam atau satu hari. Waktu yang singkat ini membuat peluang ekonomi yang tersedia menjadi terbatas.
Karena itu, muncul sebuah pemikiran sederhana namun strategis: bagaimana jika waktu singgah dapat diperpanjang tanpa harus membangun infrastruktur baru?
Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah pemberian insentif berupa konsep sederhana seperti buy one day, get one day. Dengan pendekatan ini, kapal yang semula singgah satu hari memiliki alasan ekonomi untuk memperpanjang waktu sandar menjadi dua hari.
Dampaknya dapat sangat signifikan. Jika pada hari pertama sekitar 500 wisatawan mengikuti kegiatan wisata darat, maka pada hari kedua jumlah yang sama berpotensi kembali terjadi. Artinya, peluang ekonomi yang sebelumnya hanya terjadi satu hari dapat berulang kembali tanpa harus menambah jumlah kapal yang datang.
Dengan kata lain, memperpanjang waktu singgah berarti memperpanjang waktu ekonomi bekerja di dalam kota.
Namun potensi ekonomi yang besar tidak akan berarti banyak jika realita di lapangan tidak mendukung.
Dalam kondisi tertentu, perjalanan menuju kawasan Pelabuhan Tanjung Priok dalam radius kurang dari lima kilometer dapat memakan waktu hingga satu jam. Situasi seperti ini tentu sangat merugikan dari sisi efisiensi waktu.
Dalam industri kapal pesiar, waktu adalah faktor yang sangat krusial. Setiap menit yang terbuang di jalan berarti berkurangnya waktu wisatawan untuk menikmati kota.
Selain persoalan waktu tempuh, terdapat tantangan lain yang sering dirasakan wisatawan, yaitu posisi kawasan pelabuhan yang terasa jauh dari pusat aktivitas kota. Bagi sebagian wisatawan, kawasan pelabuhan terasa seperti somewhere nowhere — sebuah lokasi yang secara administratif berada di dalam kota, tetapi secara pengalaman terasa terpisah dari kehidupan kota.
Padahal kota Jakarta memiliki berbagai pusat aktivitas yang menarik. Bayangkan jika tersedia layanan shuttle bus yang terjadwal secara khusus dari kawasan pelabuhan menuju titik-titik strategis seperti Sarinah atau Grand Indonesia.
Jika dari sekitar 1.000 penumpang dan lebih dari 1.000 awak kapal terdapat 500 orang yang tidak mengikuti program wisata resmi, maka ratusan orang tersebut berpotensi memanfaatkan layanan shuttle untuk berbelanja, menikmati kuliner, atau membeli kebutuhan pribadi.
Aktivitas sederhana tersebut, jika terjadi secara berulang, akan menciptakan perputaran ekonomi yang stabil bagi pelaku usaha di kota.

suasana penjemputan wisatawan kapal pesiar di Tanjung perak Surabaya (foto ja/istimewa)
Selain itu, solusi lain yang relatif sederhana adalah pengaturan jalur kendaraan yang lebih efisien. Dalam waktu-waktu tertentu, perjalanan menuju pelabuhan dalam radius pendek dapat memakan waktu lama akibat kepadatan lalu lintas.
Padahal dengan sedikit koordinasi antarinstansi, penyediaan jalur khusus yang steril bagi kendaraan wisata dari terminal menuju akses tol utama seperti jalur menuju Jalan RE Martadinata dapat menghemat waktu secara signifikan.
Solusi seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi dalam praktiknya dapat meningkatkan kepercayaan operator kapal pesiar terhadap kesiapan sebuah pelabuhan dalam melayani wisatawan secara profesional.
Penutup:
Pada akhirnya, kesiapan sebuah pelabuhan dalam menyambut kapal pesiar tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi infrastruktur, tetapi juga oleh cara berpikir dalam mengelola peluang yang sudah ada.
Yang dibutuhkan sering kali bukan tambahan beton, melainkan tambahan perhatian.
Bukan sekadar anggaran, tetapi keberanian untuk mengubah cara berpikir.
Pelabuhan seperti Pelabuhan Tanjung Priok sesungguhnya memiliki potensi besar untuk menjadi pintu masuk yang membanggakan bagi wisatawan kapal pesiar.
Yang menjadi pertanyaan bukan lagi apakah peluang itu ada.
Pertanyaannya adalah:
apakah kita siap memanfaatkannya dengan serius, atau justru memilih untuk membiarkannya berlalu begitu saja?
Karena pada akhirnya, masa depan pariwisata kapal pesiar tidak hanya ditentukan oleh kapal yang datang, tetapi oleh kesiapan kita dalam menyambutnya.
Apakah pelabuhan kita benar-benar siap untuk take off — atau ah, cuek saja?
Mari kita tunggu artikel yang sama di bagian 4: Menjaga Ekosistem Wisata Kapal Pesiar yang Sehat. (ja/js/rn+)
Jongki Adiyasa / Praktisi Pariwisata
Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!