Open Trip, Harga Murah, dan Ujian Moral Usaha

Iklan sederhana Open Trip Labuan Bajo (foto js)
Ditelantarkan 5 Jam di Labuan Bajo: Sebuah Catatan Penting bagi Industri Pariwisata Indonesia
Bagian 3
Jakarta, rexnewsplus.com – Kejadian seperti yang terjadi di Labuan Bajo bukanlah kejadian pertama dalam industri pariwisata Indonesia. Pada beberapa waktu sebelumnya, publik juga pernah menyimak kasus wisatawan yang mengalami penelantaran dalam kegiatan wisata pendakian di kawasan Gunung Rinjani.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan penelantaran wisatawan tidak selalu berdiri sendiri sebagai kasus tunggal, melainkan sering berkaitan dengan model bisnis yang berkembang di lapangan, terutama melalui penjualan paket wisata secara daring dengan iming-iming harga yang sangat murah.
Dalam era digital saat ini, semakin banyak calon wisatawan yang berbelanja paket wisata secara online. Harga murah sering menjadi daya tarik utama. Namun muncul pertanyaan mendasar yang patut direnungkan oleh pelaku industri:
Seberapa banyak pelaku pariwisata yang berjualan secara online benar-benar memiliki izin usaha seperti NIB dan KBLI, dan lebih dari itu, memiliki moral usaha yang memadai?

wisatwan yang berkunjung ke salah satu pulau di Labuan Bajo (fot js)
Open Trip: Murah Karena Sistem, Bukan Karena Efisiensi
Sebagai praktisi tour operator, kita memahami bahwa sebuah produk wisata memang dapat menjadi murah apabila dijalankan dengan sistem seat in coach, atau dalam istilah pemasaran digital saat ini dikenal sebagai open trip.
Dalam sistem ini, harga paket dihitung berdasarkan Break Even Point (BEP).
Sebagai contoh sederhana:
Jika sebuah open trip dihitung dengan break even point di angka lima peserta, maka:
- pada lima peserta → biaya tertutup (impas)
- di atas lima peserta → mulai menghasilkan keuntungan
- di bawah lima peserta → operator mengalami kerugian
Dalam kondisi ideal, sistem ini berjalan baik dan dapat memberikan harga yang kompetitif bagi wisatawan.
Namun dalam praktiknya, risiko muncul ketika jumlah peserta tidak mencapai angka minimal.
Sebagai ilustrasi:
Jika jumlah peserta yang mendaftar hanya dua orang, maka operator berpotensi mengalami kerugian. Kerugian inilah yang sering menjadi ujian moral dan tanggung jawab pelaku usaha.
Dalam situasi seperti ini, tidak jarang muncul perilaku yang tidak profesional, seperti:
- menunda keberangkatan tanpa kepastian
- mengubah program secara sepihak
- bahkan dalam kasus tertentu, menelantarkan wisatawan
Lebih kompleks lagi, ketika wisatawan yang dilayani memiliki ekspektasi tinggi atau karakter yang sulit, sementara operator sudah berada dalam posisi merugi, tekanan emosional dan finansial dapat memicu keputusan yang tidak profesional.

pendakian ke Pulau Padar (foto js)
Fenomena Skala Kecil: Gejala yang Sama di Perkotaan
Fenomena serupa tidak hanya terjadi pada skala besar seperti wisata bahari atau pendakian gunung. Dalam skala kecil di kota besar seperti Jakarta, pola yang sama juga mulai terlihat.
Sebagai contoh, terdapat praktik di mana pemandu wisata (guide) menerima bayaran dengan sistem “as you wish”, atau bahkan berperan layaknya tour operator tanpa struktur usaha yang jelas.
Dalam beberapa kasus, terdapat pula model open trip untuk walking tour dengan tarif sekitar Rp 100.000 per peserta.
Jika peserta mencapai sepuluh orang, maka secara finansial hasil yang diperoleh cukup besar, bahkan dapat melampaui fee standar pemandu wisata resmi yang biasanya berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 600.000 per hari.
Namun jika jumlah peserta hanya dua orang, maka kondisi berubah drastis. Program yang semula terlihat menjanjikan dapat menjadi beban finansial bagi pelaksana.
Dan dalam kondisi seperti ini, risiko ketidakprofesionalan kembali muncul.
Moral Usaha: Faktor yang Tidak Tertulis Tetapi Menentukan
Dari sudut pandang praktisi senior, persoalan utama dalam model open trip bukan semata pada sistemnya, tetapi pada moral usaha pelakunya.
Model open trip pada dasarnya bukanlah masalah.
Seat in coach telah lama menjadi bagian dari praktik profesional dalam industri pariwisata.
Namun perbedaannya terletak pada:
- kesiapan modal
- kesiapan operasional
- dan yang paling penting, komitmen untuk tetap melayani wisatawan meskipun dalam kondisi merugi.
Seorang tour operator yang berpengalaman memahami bahwa:
Kerugian dalam satu perjalanan bukan alasan untuk mengorbankan kepercayaan wisatawan.
Karena dalam industri pariwisata, kepercayaan adalah aset yang jauh lebih mahal daripada keuntungan jangka pendek.
Mari kita tunggu artikel yang sama di bagian 4 “Ketika Insiden Terjadi: Nama Siapa yang Dipertaruhkan dan Di Mana Penegakan Berada?” (ja/js/rn+)
Jongki Adiyasa / Praktisi Pariwisata
Redaksi menerima sumbangan tulisan, berita dan artikel yang berhubungan dengan pariwisata. Apabila memenuhi syarat, setelah melalui proses editing seperlunya akan segera ditayangkan. Materi dan photo-photo (max 5 gambar) bisa di kirimkan melalui nomor WA Redaksi +62 81320-97-9339



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!